Rabu, 11 Januari 2012

KONFLIK ANTARA SUKU DAYAK DAN MADURA


Konflik antaretnik dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok yang berbeda etnik, karena diantara mereka memiliki perbedaan dalam sikap, kepercayaan, nilai, atau kebutuhan (Liliweri, 2005:146).
Konflik adlah masalah yang lazim yang terjadi dilingkungan masyarakat. Banyaknya perbedaan menjadi alasan yang mendasar. Begitupun yang terjadi ketika perang antar suku yang terjadi di Indonesia.
Perang antar suku yang terjadi antara suku dayak dan suku madura memang telah lama berlalu.
Konflik-konflik kekerasan yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dilandasi oleh faktor faktor kultural; apabila faktor-faktor struktural dan kultural ini tidak diatasi dengan tuntas dan sepanjang resoluasi konflik tidak mengedepankan resolusi yang berbasis pada budaya dan kepercayaan masyarakat maka konflik kekerasan diperkirakan akan terus berulang.
Yohanes menyebutkan bahwa konflik kekerasan antara Suku Dayak dan Suku Madura di Kalimantan Barat selama ini memang tidak terlepas dari adanya tradisi kekerasan dalam Suku Dayak, namun sebenarnya bukan tradisi ini yang menjadi penyebab utama konflik melainkan lebih sebagai akibat dari adanya pemanfaatan oleh pihak-pihak lain yang menginginkan kekerasan terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, oleh mereka sendiri kekerasan tidak pernah dikaitkan dengan isu-isu keagamaan (2005:312-313).
            Di sisi Suku Madura, perilaku dan tindakan orang Madura yang tinggal di Kalimantan Barat, baik yang sudah lama maupun masih baru tidak banyak berbeda dengan perilaku dan tindakan mereka di tempat asalnya di pulau Madura. Orang Madura biasanya akan merespon amarah atau kekerasan berupa tindakan resistensi yang cenderung berupa kekerasan pula (Yohanes Bahari, 2002:314). Karena itu, kecenderungan kekerasan ini pulalah yang mudah dipicu untuk menimbulkan konflik dengan suku lain.

PERBEDAAN STEREOTIP
Setiap suku tentu memiliki budaya, adat istiadat dan kebiasaan beragam. Keanekaragaman tersebut tentunya membawa dampak dan konsekuensi sosial bagi kehidupan berbangsa. Jika tidak disikapi dengan baik, perbedaan tersebut justru menjadi faktor utama penyebab terjadinya perang antar suku.
Setiap suku akan menginterpretsikan budaya yang mereka miliki dalam lingkungannya sehingga terciptalah stereotip yang dapat mengakibatkan lestarinya perbedaan. Penonjolan stereotip suatu suku amat berbahaya. Namun, faktanya stereotip dan stigma buruk itu tetap hidup. Bahkan, tanpa disadari kian meluas. Bahaya karna hal ini dapat menimbulkan pepecahan perang antar suku pun menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.
Contoh nyatanya adalah stereotip orang Madura dalam pengetahuan orang Indonesia pada umumnya. Orang Madura kadang identik dengan watak yang kasar dan keras. Sering menyelesaikan masalah dengan carok,mengakhiri sengketa dengan cara duel maut yang berujung kematian. Penyebabnya adalah dendam atau pembalasan pihak keluarga dan kerabat yang terluka. Bahkan, tewas. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan perang antar suku yang melibatkan suku Madura.

Pertikaian Dayak-Madura
Terjadi dua kali kerusuhan berskala besar antara suku Dayak dan Madura, yaitu peristiwa sampit (2001), dan Senggau Ledo (1996). Kedua kerusuhan ini merembet ke hampir semua wilayah Kalimantan dan berakhir dengan pengusiran dan pengungsian ribuan warga Madura, dengan jumlah korban hingga mencapai 500-an orang. Perang antar suku ini menjadi masalah sosial yang me-nasional.
Ada empat hal yang menjadi penyebab terjadinya perang suku antara suku Dayak dan suku Madura :
1.    Perbedaan antara dayak-madura
Perbedaan budaya jelas menjadi alasan mendasar ketika perang antar suku terjadi. Masalahnya sangat sederhana, tetapi ketika sudah berkaitan dengan kebudayaan, maka hal tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan.
Misalanya permasalahan senjata tajam. Bagi suku dayak, senjata tajam sangat dilarang keras dibawa ketempat umum. Orang yang membawa senjata tajam kerumah orang lain, walaupun bermaksud bertamu, dianggap sebagai ancaman atau ajakan berduel. Lain halnya dengan budaya suku madura yang biasa menyelipkan senjata tajam kemana-mana dan dianggap biasa ditanah kelahirannya.
Bagi suku dayak, senjata tajam bukan untuk menciderai orang. Bila hal ini terjadi, pelakunya harus dikenai hukuman adat pati nyawa (bila korban cidera) dan hukum adat pemampul darah (bila korban tewas). Namun, bila dilakukan berulang kali, masalahnya berubah menjadi masalah adat karena dianggap sebagai pelecehan terhadap adat sehingga simbol adat “mangkok merah” (Dayak Kenayan) atau “Bungai jarau” (Dayak Iban) akan segera berlaku. Dan itulah yang terjadi dicerita perang antar suku Dayak-Madura.
2.    Perilaku yang tidak menyenangkan
Bagi suku Dayak, mencuri barang orang lain dalam jumlah besar adalah tabu karena menurut mereka barang dan pemiliknya telah menyatu; ibarat jiwa dan badan. Bila dilanggar, pemilik barang akan sakit. Bahkan, bisa meninggal. Sementara orang madura sering kali terlibat pencurian dengan korbannya dari suku dayak. Pencurian yang dilakukan inilah yang menjadi pemicu pecahnya perang antara suku dayak dan madura.
3.    Pinjam meminjam tanah
Adat suku dayak membolehkan pinjam meminjam tanah tanpa pamrih. Hanya dengan kepercayaan lisan, orang madura diperbolehkan menggarap tanah orang dayak. Namun, persoalan timbul saat tanah tersebut diminta kembali. Seringkali orang madura menolak mengembalikan tanah pinjaman tersebut dengan alasan merekalah yang telah menggarap selama ini.
Dalam hukum adat Dayak, hal ini disebut balang semaya (ingkar janji) yang harus dibalas dengan kekerasan. Perang antar suku Dayak dan Madura pun tidak dapat dihindarkan lagi.
4.    Ikrar perdamaian yang dilanggar
Dalam tradisi masyarakat Dayak, ikrar perdamaian harus bersifat abadi. Pelanggaran akan dianggap sebagai pelecehan adat sekaligus pernyataan permusuhan. sementara orang Madura telah beberapa kali melanggar ikrar perdamaian. Dan lagi-lagi hal tersebutlah yang memicu perang antar suku tersebut.


Sumber :

KESIMPULAN :
Menurut pendapat saya di dalam konflik ini tidak ada yang dapat disalahkan, walaupun cenderung madura lah yang salah. Pada intinya didalam konflik ini hanya tidak ada jiwa pancasilanya. Karena konflik ini tidak akan bisa besar kalau seandainya ada jiwa pancasila sesuai dengan sila-sila dinegara ini. Dilihat dari kerasnya watak-watak suku dayak dan madura dan tidak ada jiwa kemanusiaannya.
Perbedaan adat istiadat di suatu daerah sangat berbeda-beda harusnya sebagai perantau dapat beradaptasi sesuai dengan adat disekitarnya, dan bisa bisa bersosialisasi dengan suku didaerah tersebut.

1 komentar:

  1. halo Nurulita. Isinya keseluruhan bagus.
    Tapi anda tidak mengetahui asal mula perang yang sesungguhnya.
    Memang tidak ada jiwa pancasila dan kemanusiaannya. Kenapa?
    Pemerintah kurang adil dan tegas dengan hukum yang mereka punya. selalu ada keberpihakan jika terjadi sidang.
    Akhirnya kita menggunakan hukum Adat.
    Saat sidang adat Dayak, penyelesaian masalah suku Madura dan suku Dayak lebih cenderung dimenangkan oleh suku Madura. Kok bisa? Bukti kurang kah? Tidak berani kah? Bukan.
    Suku Dayak dulu dikenal sebagai suku yang beringas. Hingga detik inipun orang Belanda perlu berpikir 2 kali untuk pergi ke Borneo. Kenangan kemenangan dan kejayaan serta kekuatan masa lalu masih teringat dibenak kami. Kami masih menghargai suku Madura. Madura dulu kalo dipasar, jual daging sapi, kita udah bilang beli setengah kilo, ga jadi beli, sudah diacungkan pisau. Mau bunuh bunuhan. Banyak pembunuhan terjadi hanya karena uang Rp 1000,-. Banyak orang Dayak yang dibunuh, diperkosa. Dikunci dari luar rumah, dibakar satu keluarga didalam rumah.
    Namun kami tetap menghargai mereka. Hingga kami "Puas" dengan apa yang mereka perbuat.

    Tambahan, korban itu bukan 500. Lebih. Jauh lebih banyak. :D
    Isen Mulang Petehku.

    BalasHapus